Last Post of The Year

best song ever. mulai dari komposisi gitar, vokal, lirik, trus penghayatannya. feelnya ngena banget pokoknya.

Karena Kutahu Engkau Begitu (KKEB) - Andre Hehanusa

kuyakin dalam hatiku
kau satu yang ku perlu
kurasa hanya dirimu
yang membuatku rindu

bila saat nanti kau milikku
kuyakin cintamu
takkan terbagi, takkan berpaling
karena kutahu engkau begitu
karena kutahu engkau begitu

hingga ku pasti menunggu
selama apapun itu
demi cinta yang kurasakan
yang hanyalah kepadamu

percayalah kusungguh-sungguh
mengatakan semua
yakinkan hatimu kau milikku
karena kutahu engkau begitu
karena kutahu engkau begitu


:)

Syair Pemuda Rantau

Orang pandai dan beradab tidak
akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan
merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti
dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa
setelah lelah berjuang

Imam Syafi'i



Sepercik syair yang mengobarkan semangat bagi para pemuda, untuk merantau ke negeri orang. Inspiratif dan sarat akan makna. Ditulis oleh Imam Syafii.

Pra-MOS SBI 2008

Hehe. Akhirnya sukses juga ngendap-ngendap buka kompi skul. Cerpen saya kembali! Hehe. Oh iya, buat yang enggak tahu, MOS itu Masa Orientasi Siswa, dan SBI itu Sekolah Bertaraf Internasional. Well, you should be able to conclude the meaning of the title immediately, rite? Anw, enjoy :)

Malam sebelum Pra-MOS SBI Juli 2008


Langit teduh malam itu. Pasukan awan baru membulirkan titik-titiknya di bumi. Kelam bagai temaram. Gelap. Lembab.


Seperti remaja pada umumnya. Aku merasa tidak sabar untuk pergi ke sekolah baru untuk pertama kalinya. Putih abu-abu terlihat megah di pandangku. Aku merasa terhormat mengenakannya, serasa berjubah raja, berzirah ksatria.


Aku kesulitan tidur. Kelopak mataku yang lazimnya terpejam sekejap setelah kuperintahkan lewat saraf motorikku, malam itu terasa berat bukan buatan.


Mungkin karena terpaksa, atau memang karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Aku akhirnya terlelap.


Pra-MOS SBI Juli 2008


Aku siap berangkat. Bertunggangkan Supri. Punggungnya empuk. Sekilas terasa bak marshallow. Mungkin kalau aku mabuk dan lapar, bisa punah kukunyah punggungnya.


Kupacu Supri kencang-kencang…


Kawan, Supri itu sahabat baruku, Supra Fit rilisan Juli 2008, kudapat dari ayah karena rajin bekerja, eh, keliru, karena ayah memang ingin aku mandiri sebab aku anak SMA. Ayahku ingin aku sebisa mungkin tidak bergantung pada orangtua

.

Prediksiku salah. Tiga jam yang lazimnya kumanfaatkan untuk bobok ciang pun terbuang sia-sia. Kemarin, aku sudah berkalkulasi masak-masak akan waktu yang paling tepat untukku berangkat sekolah. Rumus-rumus bapak-bapak ilmuwan seperti Newton, Pythagoras, bahkan perhitungan Algoritma telah kuterapkan. Hasilnya? Nihil. Aku dibodohi oleh orang-orang terhormat itu. Surabaya pagi hari memang akan selalu macet meski berbagai ilmu tersohor sudah kugunakan untuk bermain prediksi

.

“Ah, kalau tahu bakal begini, mending aku kemarin tidur,” pikirku.


Betul. Jika saja kemarin aku melakukan rutinitas tidur siangku seperti biasa, mungkin aku bisa mendapat wangsit dari leluhurku, mengenai jadwal yang tepat untuk berangkat ke sekolah.


Ah, biarlah. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang kita cari ayamnya saja supaya bubur ini menjadi nikmat.

**

Alhamdulillah, aku sudah dekat dengan sekolah. Sekitar lima puluh meter lagi untuk sampai di depan gerbang utamanya. Kukendurkan peganganku pada Supri. Bukannya mau pamer motor baru atau apa. Tapi di depan mataku saat ini memang sedang banyak kendaraan bermotor lain. Mulai motor, mobil, angkot, sampai yang paling seram, truk sampah. Sekonyong-konyong perutku mual, gigiku gigil karena getar dan mataku berkunang-kunang. Semua ini karena truk sampah bedebah itu.


Hampir saja aku pingsan.


Namun, hatiku bergemuruh minta pergi sekolah. Dan itu saja ternyata sudah cukup untuk menstimulasi ribuan peleton sel dan saraf otakku agar tetap sadar.


Alkisah, dua menit penyiksaan truk sampah pun selesai. Aku sekarang berada tepat di depan sekolahku. Sekolah negeri nomor satu di Surabaya. Nomor satu di Jawa Timur. Dan mungkin termasuk lima besar di negeri cuilan surga ini, Indonesia. Meski sebenarnya, aku tidak terlalu yakin, karena yang memberitahuku semua itu adalah seorang paman becak yang biasa mangkir di dekat SMP ku dulu.


“SELAMAT DATANG DI SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL SMA NEGERI LIMA SURABAYA,’’ begitulah bunyi plakat yang bertengger kokoh di atas gerbang sekolahku itu.


Aku pun menggiring Supri ke lahan pemarkiran. Tidak mengapa bagiku mengeluarkan lima ratus rupiah untuk Supri. Yang penting Supri aman dan tidak ada tangan-tangan nakal yang hendak mencolek kejantanannya. Aku tak mau Supri jatuh ke pelukan orang lain. Bisa-bisa aku remuk bukan buatan. Bukan, bukan karena aku cinta mati dengan Supri, tapi remuk digebuki ayahku.


Selepas memastikan Supri sudah terkunci lapis dua, aku meletakkan helm abu-abu kesayanganku di spion kananku. Sambil berjalan meninggalkan tempat parkir, ku tolehkan mukaku ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang, berusaha mencari-cari wajah yang menurutku familiar. Tak lama, sosok Artha nampak di hadapan, berdiri tinggi, bangga, memanggul ransel kebesarannya. Ya, ranselnya memang nampak terlalu besar untuknya.


“Artha! Artha! Artha!” teriakku memanggil namanya tiga kali bak adegan film horor.


Perlu kau tahu, kawan, Artha ini sahabat karibku. Bukan sekadar sahabat, tapi sahabat karib. Dialah salah satu sumber inspirasiku selama ini. Kapasitas otaknya mungkin bisa dibilang melebihi Einstein. Jenius. Pandai bukan kepalang. Terlalu banyak hal indah yang dapat diceritakan mengenainya. Pendek kata, dia salah satu orang terpenting dalam hidupku.


Air mukanya seketika berubah saat melihatku. Wajah yang tadinya cerah ceria, tiba-tiba bermetamorfosis jadi wajah ketakutan seperti melihat tuyul.


Sial. Usut punya usut, dia ternyata kaget melihatku.


Kawan, tahukah kamu bagaimana perasaan seorang pemuda tampan nan rupawan yang bangga nian akan rambutnya sepertiku, ketika dipaksa untuk mencukur mahkotanya yang keramat? Benar, kawan, seperti kisah Samson yang kehilangan kekuatannya saat rambutnya digunting, persis, tak luput bahkan sekata.


Panitia PRA-MOS SBI sekolahku memang mewajibkan semua peserta untuk menggunting rambutnya. Tidak perlu gundul, yang penting rapi dan terlihat seperti orang terdidik. Tetapi, ibuku memaksa tukang cukur langgananku agar memotong rambutku sependek mungkin. Agar terlihat gagah, kata beliau. Mengacu pada ajaran Ustad Ali yang selalu mengajariku betapa pentingnya berbakti pada orangtua, aku pun mengangguk saja saat itu. Biarlah, bayangan surga sudah menutupi keinginanku untuk menghentikan tindakan tukang cukur yang dikomando ibuku kala itu. Aku tidak mau jadi anak durhaka.


Artha menggigit bibir bagian bawahnya. Ya, dia menahan tawa karena melihatku.


Beberapa detik kemudian, ekspresi mukanya kembali normal bagai sediakala. Dia memang sahabat yang baik, tak mau menyakiti perasaanku dengan mengetawakan tandusnya kulit kepalaku saat itu.





bersambung... :p

Another Random Poem

another one, haha. i tell u what, this poem got a compliment from my malay teacher, though she didnt know that i was the one who wrote it. haha. enjoy! :)

CATATAN ANAK RANTAU

Resah,
Aku gelisah
Sendiri,
Aku sepi
Ingin terbang,
Ingin ku melayang

Berjalan diiringi awan
Ikuti kaki, kemana angin menerpa
Berlari, ku terhenti
Menolehku, penat benakku

Aku ingin pulang

A Random Poem

hey yo! i've decided to post some non-english writings here. haha. hope you guys can understand, cos i personally think that not all words can be translated to english. and one more thing, you can use google translate if u wanna know the meaning. haha.

anw, here it is. enjoy! :)

BERAT MEMANG

Ah, cinta
Susah ditebak, sukar diduga
Siksa menjadi nikmat
Sakit seperti sehat
Gerhana bagai purnama
Neraka layaknya surga


Namun,
Dilema cinta tak pandang bulu
Besar, kecil
Tua, muda
Semua mati kutu


Ya sudah, lupakan saja cinta.

New Layout

woohoo! the new layout looks damn cool for me. yet, I got some problem with the body arrangement of a post. hmm, but overall, it's nice~

:p

Terrorism in Democracy

Just a random essay I wrote, to get rid of my boredom. Anyway, this can be said as my first attempt to write an argumentative essay, or for the people who know it, a GP essay. Enjoy! :)

Question:
"The cure for terrorism is democracy." Do you agree?

Answer:

In today’s globalised world, it might be too premature to conclude that terrorism could be deterred by the sole presence of the system of governance. If you realise it, subtle differences of notions or opinions in a society can affect the harmony of a country in a great extent. Recent cases in Indonesia, a country that embraces democracy system, have evidently proven that the governance system alone is insufficient to prevent the severe acts of terrorism. The bombing tragedies that were executed by a notorious terrorist organisation namely Jemaah Islamiyah, have been more than enough to indicate that terrorism would demonstrate intolerance to any country, regardless the governance system. However, Winston Churcill, the pioneer of the foremost international organisation whose purpose is to maintain the stability of the world peace, once said that “democracy is the worst form of the government except all the others that have been tried.”

The definition of democracy itself is a system of governance, in which either the actual governing is carried out by the people governed (direct democracy), or the power to do so is granted by them (as in representative democracy). This system is expected to inculcate the sense of belonging to the nation, so that the people would suppose that they are really involved in decisions made by the government. This thus requires every aspect of the nation to lend their hand, or voice their aspirations towards the yet-to-apply laws, measures, or generally speaking, decisions. By this, it is assumed that all people would be satiated by the final outcome, since it is agreed by all elements of society. Terrorism, which is an explicit act of repugnance towards the country, is expected to be removed by the very existence of the power to govern that is given by the system. Therefore, democracy is possibly said to be a cure of terrorism to a certain extent.

While it is indeed true that democracy has led country to peace, profuse vox populi of dissent has increasingly depicted the adverse side-effects of the system. The diversity of people’s thoughts makes it irrefutably almost impossible, to build a final decision that can satiate all the desires of one person, or maybe, a group of people. Therefore, the virtue of governance by the people may even be a trigger of conflicts that comes from the disapproval of certain people towards the government actions. Isaac Newton’s third law which says ‘’action is equal to reaction’’ is justified to be undeniable, even we apply it to this terrorism issue. Analogy of government’s decisions as the action, and terrorism acts of reaction, is clear enough to indisputably simplify this as a proof of the law. Jemaah Islamiyah is certainly an ill-famed example in this case.

From the synthesis of the information above, I therefore agree to a miniscule extent that democracy is the cure of terrorism. Based on the aforehand cases, we surely are not able to determine whether democracy is the best system to stop the acts of terrorism. Nonetheless, it can be argued that democracy can alleviate the possibility of the terrorism to occur, as the voices of public will really be considered by the higher authorities in this system.